Menulis Sinopsis

 
 
Anyeong~

Merasa bersalah sama blog sendiri. Blog ini udah ganti domain sejak akhir Desember 2016 lalu, sekitar satu bulan lebih. Maksudnya supaya aku lebih semangat isi blognya, tapi....ternyata kesibukan membuatku menunda dan menunda menulis.

Salam dari Pangkalpinang

Assalamu'alaikum wr. wb. 

Duh, ini blog udah banyak debunya. Udah berapa lama ya engga nge-blog? Lama banget kayaknya. Hee...

Baiklah mulai sekarang mari kita ramaikan lagi blog ini.

Hari ini, saya mau cerita tentang kepindahan saya sekeluarga ke Pulau Bangka. Tepatnya ke kota Pangkalpinang.

Saya pindah kesini karena saya harus bertugas disini. Lho, koq aneh ya? Biasanya istri yang ikut suami, ini koq suami yang ikut istri? Yaa... Beginilah kami. Komitmen kami. Siapa yang lebih dulu punya kerjaan jauh, yang lain harus ikut. Dan kebetulan saya duluan yang harus keluar dari Bogor.
Setelah penantian selama 5 tahun, dan 3 kali ikut ujian CPNS Kemenhut, akhirnya bisa lolos di percobaan ketiga. Alhamdulillah...

Tepat hari Jumat yang lalu, kami sekeluarga tiba di Pangkalpinang. Setelah muter-muter cari kostan bersama rekan dari kantor, akhirnya kami memustuskan untuk tinggal tidak jauh dari kantor. Hanya sekitar 2-3 menit berjalan kaki. Memang, harga kostannya lebih mahal daripada kostan yang lain. Tapi pertimbangan kami adalah dekat dengan kantor, dan lingkungan - semoga - cukup baik untuk Mikail. Setidaknya kalau dia rewel merengek ingin ke ibunya, tidak terlalu jauh.

Pangkalpinang ternyata panas. Wiihh... Selama beberapa hari kegerahan. Tapi sekarang sedikit demi sedikit tubuh sudah beradaptasi. Tidak lagi merasakan panas yang berlebihan.

Disini biaya hidup lebih mahal daripada Bogor. Bagaimana tidak, bawang merah saja Rp. 50.000/kg. Sayuran hijau Rp. 10.000/kg. Ckckckck. Tapu meskipun mahal, lebih murah masak sendiri daripada beli di luar. Pernah syok, makan di warung biasa berdua harus bayar Rp. 45.000. Ha! Biasanya kan di warteg paling cuma Rp.20.000.

Tapi Alhamdulillah, rang sini ramah-ramah. Senyum selalu tersungging saat berpapasan di jalan. Rekan sekantor juga.

Sayangnya, angkot disini mahal. Jauh dekat tarifnya sama Rp. 5000. Jadi, sayang di ongkos kalau mau jalan ke swalayan. Hehe... Disini kebanyakan masyarakatnya menggunakan motor sebagai alat transportasi. Jadi mahal deh angkotnya. Sepertinya sih begitu.

Di Pangkalpinang ini sebenarnya semua sudah lengkap. Dekat pasar, RS, puskesmas, swalayan, karaoke, tempat wisata. Tapi sayang, tak ada bioskop disini. Bagi kami yang lebih suka hiburan nonton, jadi terasa kurang. Haha.

Apalagi ya? Untuk sekarang, cukup sekian dulu deh. Mudah-mudahan ke depannya saya lebih sering meng-update blog ini. ^^


Pengalaman Melahirkan Anak Pertama


Saya ingin berbagi pengalaman pertama kalinya menjadi ibu. Setelah menikah saya langsung dinyatakan mengandung. Proses kehamilan dijalani seperti wanita hamil pada umumnya tapi tanpa merasakan apa yang disebut-sebut orang sebagai ngidam (dalam post sebelumnya telah saya bahas mengenai ngidam).

Saat usia kandungan baru mau menginjak usia 8 bulan, pada tanggal 2 Desember 2011 tengah malam saya merasakan ada keanehan pada air urine saya. Keesokan harinya saya memerikakan diri ke bidan dan dinyatakan bahwa sudah terjadi pembukaan 1, dan saya pun dirujuk ke RS pemerintah. Singkst cerita, setelah 2 hari di RS pemerintah saya tidak ditangani, tengah malam tanggal 4 Desember 2011 saya pun pindah ke RS swasta khusus ibu dan anak dengan status “gawat janin”. Sesampainya di RS tersebutpun saya belum bisa ditangani karena saya masih dalam kondisi demam yang tidak memungkinkan untuk diakukan tindakan operasi.

Setelah diberi obat 2 kali dan menunggu sampai pagi, akhirnya tindakan pun dilakukan pada pukul 09.00 dan Alhamdulillah lahirlah putra kecil kami3 pada pukul 09.29. Perasaan campur aduk, senang, haru, sedih, tapi yang jelas plong, gak ada lagi ganjalan di hati.

Ternyata sebelum masuk ruang operasi dokter menyatakan bahwa kemungkinan hidup untuk saya dan bayi saya adalah 50:50, karena penanganan yang terlambat sejak awal. Air ketuban di dalam rahim sudah berwarna hijau dan terinfeksi bakteri. Detak jantung janin di atas normal, dan janin kekurangan oksigen di dalam rahim. Sehingga, putra saya pun harus dimasukkan ke dalam inkubator selama 12 hari dengan diberi oksigen tambahan dan di infus.

Saya memang di operasi untuk mengeluarkan bayi, tidak normal seperti kebanyakan perempuan. Tapi Alhamdulillah saya merasakan juga yang namanya mules-mules atau kontraksi sampai saya tidak kuat menahannya dan sudah tidak sadar dengan keadaan sekitar. Alhamdulillah saya merasakan perjuangan ibu saya ketika melahirkan saya dan juga perjuangan ibu-ibu lain untuk memberikan kehidupan pada anaknya. Dan proses melahirkan yang baru saya rasakan ini pun membuat saya semakin mencintai ibu saya.
Berdasarkan pengalaman yang saya alami, saya bisa mengambil hikmah dan menyarankan kepada calon ibu untuk memperhatikan beberapa hal:

  • Jaga terus kondisi badan, cek kesehatan janin setiap bulan mutlak diperlukan.
  •  Persiapkan tabungan untuk biaya melahirkan, apalagi melalui oprasi yang memerlukan banyak biaya.
  • Pilih RS yang benar-benar berkualitas, harga/biaya itu pasti sesuai dengan pelayanan. Bukan menjelekkan, tapi berdasarkan pengalaman yang saya alami, RS pemerintah sungguh mengecewakan dalam pelayanan.
  • Yang paling penting apabila air ketuban sudah merembes keluar, walaupun belum masuk waktu melahirkan, sebaiknya segera pergi ke RS untuk dilakukan tindakan. Sebab jika telat bisa membahayakan janin dan juga ibu.
Dan tak kalah pentingnya, selalu berdoa agar diberi perlindungan oleh Allah SWT dalam proses melahirkan baik secara normal maupun operasi.

Dan inilah putra pertama kami, MIKAIL RIZKI MUHARRAM HERDIANTO.


 Tatapan pertama untuk Ambu-nya ^^

Ayah a.k.a Bapak

Kali ini saya ingin membagi tentang kisah ayah saya. Melihat perjuangan ayahnya Mika a.k.a suami saya, membuat saya mengingat perjuangan ayah saya sendiri.
Ayah, yang biasa saya sebut dengan Bapak, adalah sosok yang sangat bertanggung jawab dan pekerja keras. Bapak yang berpendidikan rendah membanting tulang menafkahi anak dan istrinya, bahkan sekarang ditambah cucu. Bapak hanyalah seorang tukang tambal ban, tapi dia berhasil membuat kami tidak kelaparan.
Masih sering saya ingat, sewaktu saya kecil Bapak pernah bekerja sebagai kondektur bis waktu di desa. 

Bahkan kata Mama, Bapak pernah juga berjualan bakso. Kemudian Bapak memulai karirnya di dunia pertambalan ban ketika saya SD. Bapak bekerja di lain kecamata, karena di kampung, walaupun hanya lain kecamatan, jadi jaraknya lumayan jauh ditempuh dengan perjalanan kendaraan umum kurang lebih 4 jam, sehingga Bapak pun pulang ke rumah satu kali per 2 minggu. Setiap kali pulang, pasti saya dibawakannya oleh-oleh, jelly dan majalah anak-anak.

Tahun 1999, kami sekeluarga memutuskan untuk hijrah ke kota Bogor. Bapak yang telah meninggalkan pekerjaannya dikampung, kemudian mencari pekerjaan kesana kemari dan sempat menjadi penjual kelapa di pasar, loper Koran, bahkan menjadi “pak ogah” dipertigaan jalan. Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat terpuruk, sehingga untuk makan pun, kami harus menunggu Bapak pulang di sore hari dengan membawa uang untuk membeli satu liter beras dan lauk sederhana (suka sedih kalo inget moment ini, hiks..). 

Betapa hebatnya perjuangan seorang Bapak untuk menafkahi anak dan istrinya. Sampai akhirnya Bapak menemukan tempat untuk kembali bekerja sebagai tambal ban, dan kehidupan kami berangsur-angsur membaik.

Sampai sekarang Bapak masih dengan profesinya sebagai tukang tambal ban, menafkahi istri dan memberikan jajan untuk cucu-cucunya,hehe..

Alhamdulillah, walaupun Bapak buka seorang berlimpah dengan harta, tapi beliau mampu menyekolahkan saya sampai mendapatkan gelar S1. Alhamdulillah juga saya sudah bisa sedikit memberikan kebanggaan pada Bapak. Semoga saya masih bisa memberikan kebanggaan-kebanggan lain untuk Bapak. Amin.

Ngidam versi Mumu

Ngidam. 

Hmm, apa itu ngidam?

Mungkin semua orang juga sudah tahu dengan istilah ngidam. Ngidam itu (katanya) suatu kondisi dimana seorang calon ibu menginginkan sesuatu hal dengan teramat sangat. Sesuatu hal itu berupa makanan, benda, atau malah hal lain. Misalnya memegang kepala orang botak, hehe. Ngidam itu identik dengan kata aneh. Bagaimana tidak aneh kalau tengah malam si calon ibu minta dibelikan es cendol, atau minta dibawakan mangga muda padahal belum musimnya mangga. Malah mungkin banyak yang lebih aneh dari itu. Selain aneh, ngidam juga bisa merepotkan. Kasihan dong si ayah disuruh uber sana uber sini nyari kemauan si calon ibu, soalnya kalau tidak tercapai nanti bayinya ngiler, hehe, aneh..

Saya dulu merasa aneh kalau mendengar cerita tentang calon-calon ibu yang merasakan ngidam, ngidam ini, ngidam itu. Saya pun penasaran, apakah saya akan merasakan ngidam jika kelak saya mengandung. Dan ternyata, setelah saya mengandung sampai melahirkan, surprise! Saya tidak merasakan yang namanya ngidam, malah saya jadi ragu apakah ngidam itu memang ada? Apakah ngidam itu memang hal yang lumrah?
Setelah saya renungkan baik-baik selama hamil itu, akhirnya saya menyimpulkan kalau yang namanya ngidam itu tidak ada. Ini menurut pendapat saya ya..

Yang orang-orang bilang dengan ngidam, itu hanyalah bentuk mencari perhatian dari si calon ibu. Perhatian dari orang-orang sekitar, khusunya dari suami atau si calon ayah. Kenapa si calon ibu mencari perhatian? Ya jelas dong, si calon ibu takut suaminya berpaling atau menjauh di saat perubahan besar terjadi pada tubuh istri. Dengan hamil, sudah jelas berat badan pasti membengkak, bahkan ada yang membengkak tajam (hehe,,termasuk saya). Si calon ibu pasti merasa dirinya jelek dan minder, apalagi psikologis calon ibu biasanya labil dan sangat sensitif, pengaruh dari berubahnya hormon di dalam tubuh (hormon apa ya saya lupa,hehe..).

Jadi, karena rasa sensitif itulah calon ibu akhirnya curigaan mulu sama suami. SMS gak dibalas mikir aneh-aneh, telpon gak diangkat mikir aneh-aneh, pulang ke rumah telat mikir aneh-aneh. Jadiiiiii, untuk membuktikan kesetiaan dan seberapa besarnya rasa cinta suami, adalah yang namanya ngidam itu. Kalau si suami nurutin berarti dia masih setia dan cinta, kalau si suami gak nurutin, naaahhh berarti ada tanda-tanda tuh… mungkin itu kali ya yang ada dipikiran bumil yang sedang ngidam. Hehe..

Tapi, sekali lagi, ini hanya menurut pemikiran saya lho ya.. selama saya hamil anak pertama satu setengah tahun yang lalu. Saya tidak pernah menginginkan sesuatu dengan teramat sangat, harus didapatkan, kalau tidak ada saya akan kecewa setengah mati. Tidak. Saya tidak pernah merasakan itu. Kalau menginginkan sesuatu yang wajar sih sering, misalnya pizza atau batagor dan lain-lain. Tapi saya tidak pernah merasa kecewa yang berlebihan jika memang tidak ada penjualnya, tidak ada ya sudah. Dan keinginan itu sih, memang sebelum hamil juga doyan makan, hehe..

Mungkin nanti, setelah teman-teman membaca ini, dan merenung, pasti mengerti yang saya maksud. :)

Demikianlah pendapat saya mengenai ngidam.. semoga bermanfaat..

Ramadhan 1435 H

Alhamdulillah… kita sudah sampai kembali di Bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, bulan penuh ampunan. Jika diibaratkan sebidang tanah, Bulan Ramadhan ini ibarat sebidang tanah yang sangat subur yang jika ditanami akan memperoleh keuntungan yang berlipat ganda.

Bulan Ramadhan juga memiliki beberapa keutamaan, antara lain, bulan tarbiyah untuk mencapai taqwa; bulan diturunkannya Al-quran; bulan ampunan dosa; bulan dilipat gandakannya amal sholeh; bulan sabar; bulan ditambahkannya rizki orang mukmin; bulan yang awalannya rahmat, tengahnya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. (sumber: kemenag)

So, selamat berpuasa dan beribadah ya kawan-kawan…

Oya, ni ada jadwal imsakiyah untuk wilayah bogor. Untuk daerah lain bisa klik disini dari kemenag, tinggal pilih provinsi dan kotanya ya..

Imsakiyah-1435H-Bogor

"Jangan nangis bu.."

"Bu, sayang sama dede yah? Ibu nangis? Jangan nangis.. Dede ke rumah eyang sebentar, nanti balik lagi.. Jangan nangis ya.." ujar Mika setelah memelukku yang selesai shalat.

Andai kamu mengerti nak, bukan cuma itu yang membuat ibumu menangis..

Andai kamu bisa ibu ajak bicara..

Cepat besar ya nak..

Ibu sayang sama Mika..

Ibu gak mau kehilangan Mika..

Ibubil

Ibubil? Iya, ibu-ibu labil.. ha..

Seharian ini pasti pada nyari ya? Kenapa blog Berbagi Sinopsis tak bisa dibuka?? Banyak mention yang masuk, tapi gak aku jawab, karna aku sudah kasih pengumuman walau gak pake alasan, hehe..

Seharian ini, utak-atik template lagi. What? Perasaan baru ganti template deh. Iya, maka aku bilang, aku ini ibubil alias ibu-ibu labil. Sejak pertama ngeblog, gak pernah ngerasa puas sama template yang udah ada, maupun hasil utak atik dan donlot template gratisan.

Waktu itu, udah nemu yang pas, tapi… pengen make template yang beda dari yang lain, biar bisa dijadiin ciri khas. Tapi, template di inet kebanyakan hampir sama, jadinya pasti ada yang sama. Sebenarnya bisa jika mau template yang beda dari yang lain, tidak lain dan tidak bukan, pesan sendiri alias bayar. Tapi kocek belum sanggup, hehe..

Akhirnya di tengah kegalauan dari kemarin malam cari template dan berkali-kali ganti, otak-atik html lagi, juga dikomentarin sang kekasih. Nemu juga yang kayaknya pas banget buat aku. Eaaaa…

Suamiku tuh paling sebel kalau liat aku udah di depan laptop otak-atik template.

“Ngapain lagi sih mu?? Kalau mau ganti-ganti boleh, tapi jangan keseringan. Punya prinsip dong, cari yang ciri khasnya kamu…”

Iya iyaaaa…. Mudah-mudahan template yang ini bertahan lama.. Hehe..

Dan inilah dia penampakan Blog Berbagi Sinopsis yang terbaru:

blog berbagi

Oya, Blog Catatan Mumu juga ikutan ganti nih:

Catatan Mumu

Blog Katalog Sinopsis pun tak lupa walau linknya belum di update lagi.. >.<

Katalog Sinopsis

Takut.

Merinding, was-was, tak berani menatap, menghindar.

Hari ke-5 di Trayeman

Yup. Trayeman. Trayeman itu nama desa di Kecamatan Slawi, Tegal Jawa Tengah. Sudah lima hari ini kamu sekeluarga hijrah kesini. Entah untuk selamanya atau tidak, yang pasto sementara memang akan lama tinggal di kampung halaman si ayah ini.

Hari ini hari ke-5. Dan ada dua kejadian tak biasa yang terjadi pada Mika.

Pertama. Mika ilang! Tadi sore, Mika hilang dari pandangan dalam sekejab dari teras rumah. Dia jalan ke depan ke samping, ke dalam dan keluar rumah nyari sepupu ayahnya (berarti tantenya Mika) yang sembunyi.

Tiba-tiba pas dipanggil sama aku, tidak ada sahutan. Cari ke rumah tantenya itu juga gak ada. Liat ke ujung jalan kanan kiri, gak ada juga. Mulai ketar ketir, takutnya di jalan jauh sendirian nyari tantenya itu. Syukur-syukur memang jalan sama tantenya itu.

Dicarilah sama eyangnya ke jalan raya, dan...ketemu! Dia lagi ikut beli bubur sumsum sama tantenya itu. Ya ampun...pengen marah juga gak bisa. Akhirnya hanya bilang dan kasih pengertian sama Mika kalau mau main harus bilang Ibu. Tak lupa ngasih tau tantenya juga kalau mau ngajak main jauh dari rumah, harus kasih tahu dulu.

Fiuh.. Lega..

Btw, tantenya ini kembar, kelas 6 SD. Namanya Arum dan Ambar. Dan Mika gak bisa bedain. Karena pertama kali ketemu sama Arum, jadi dia panggil dua-duanya dengan nama Arum. Sudah dikasih tau, tetap saja manggil Ambar juga dengan nama Arum.

Kedua. Mika seperti biasa ikut shalat Magrib ke Mushola. Pas lagi berangkat, di perjalanan listrik mati. Shalat sudah dimulai, setelah jalan satu rakaat, listriknya nyala lagi. Mika kan ikut berdiri di syaf perempuan sama aku, pas sebelahan sama syaf laki-laki tapi dipisah sekat. Nah, di bagian paling depan kan masih nyambung ke syaf laki-laki. Mika yang udah seneng ikut shalawatan di mesjid pake mic sejak ikut ngaji sama Ema di Bogor, ambil mic yang tergeletak di sajadah.

Dia tes suara, "haloww". Nyala. Trus pas semuanya "Amin", dia ikutan bilang "Amin" di mic.
Ku pikir sudah segitu aja, eh taunya dia shalawatan sendiri pake mic, disaat Imam mimpin shalat dan semunya shalat. Ya Allah, ampunilah hamba yang shalatnya jadi gak khusyu gara-gara Mikail. Aku nahan tawa! Pengen batalin shalat, tapi nanggung. Akhirnya, karena Mika pasti gak berhenti kalau gak dihentikan, dan jika tidak.dihentikan bisa membuat seisi Mushola tidak khusyu, jadi akhirnya dengan terpaksa saat mau sujud aku colek Mika. Mika pun terduduk diam sampai satu setengah rakaat itu selesai.

Selesai shalat, langsung aku rangkul Mika dan kasih pengertian kalau yang dia lakukan tadi salah. Boleh shalawatan pake mic saat sebelum shalat. Kalau lagi shalat tidak boleh, dan Mika harus belajar ikut shalat.

Dan..si bapak yang bertanggung jawab dengan mic itu langsung menyimpan mic ke ruangan disamping tempat Imam sambil.cemberut.

Kayaknya, itu mic habis dipakai. Pas listrik mati, powernya masih on dan lupa di off sama bapak itu. Hingga akhirnya pas listrik nyala, mic itu masih on. Dan bergemalah suara Mika di speaker. Eyang putri yang shalat di rumah aja dengar suara Mika di mic tadi.

Bingung juga, itu salah siapa. Mika yang gak tahu aturan atau bapak itu yang khilaf belum meng-off. Tapi, karena Mika masih kecil, berarti salah bapaknya, hehe..

Sekarang, Mika nya sudah terlelap. Begitulah cerita di hari ke-5 ini. ^^